PNPM Mandiri Perkotaan

PNPM Mandiri Perkotaan
Bersama Membangun Kemandirian

Rabu, 24 September 2014

CALON DARI KALBAR BERADA DIURUT 13, PENGUMUMAN LOLOS CITY CHANGER NASIONAL 2014, SELAMAT....!


SELAMAT KEPADA ANDA yang telah masuk seleksi dan menjadi calon PENGGIAT PERMUKIMAN BERKELANJUTAN (CITY CHANGER). Berikut adalah daftar nama peserta yang lolos seleksi, dan Anda akan dihubungi oleh pihak Panitia untuk mengikuti proses selanjutnya.



SELAMAT KEPADA BAPAK MUHAMMAD HIDAYAT YANG TELAH TERPILIH MENJADI 

SALAH SATU DUTA DARI KALIMANTAN BARAT YANG MASUK DALAM 100 DAFTAR CITY

 CHANGER NASIONAL 2014, SEMOGA MAKIN KONTRIBUTIF UNTUK MENYUMBANGKAN

 PEMIKIRANNYA DALAM MEMBANGUN PERMUKIMAN BERKELANJUTAN DI 

KALIMANTAN BARAT
1.Sudarmanto26.Sepris Yonaldi, SE, MM51.Martias76.Meky Hobera
2.Berlian Santosa27.Diana Sulastri52.Budi Lestari77.Tatang Setiawan
3.Steny Vanesa28.Anang Otoluwa53.Siti Aminah78.David Suria Sumirat
4.Prabasusatya Dwiyarkasujana29.Simon Pinem54.Marthino Mawikere79.Khairul Fuad
5.Nila Ardhyarini Hayuning P.30.Dinoto55.Torianus Kalami80.Yakub Abas
6.Tutik Sri Susilowati31.Denny Yulian56.Tin Budi Utami81.Beljoseb Bangun
7.Wisnu32.Arif Budiarto57.Punkky Hendrarto82.Firman Purboyo Bahunegoro
8.Titik Widyastuti33.Rafiah58.Fince A Daisiu83.Isnaini.
9.Fajar Desira34.Agus Saepulloh59.Siswoyo Seputro84.Alwi Jamaludin
10.Jajang Faojan35.Budhi Darmawan.60.Rendi Adriyan Diningrat.85.Hj Mariani B.
11.Bangun Satrio Nugroho36.Robby Binor61.Siti Mulyani86.Sri Sulistyanto
12.Rudin Priyanto37.Hastuti Saptorini62.Muhammad Nur Al A’la87.AIrma TNilawati, S.p
13.Muhammad Hidayat38.Mardan Siregar63.Mohammad Imran88.Shendy Irawan
14.Surya Darminta39.Heru Santoso64.Burhanis89.Anita Syafitri Arif
15.Syamsinar Noviyati40.Abdul Latif65.Icb Eko Setyo Winanto90.Syamsul Rizal
16.Andi Annisa Amalia41.Khairuddin66.Sintho91.Novelia Simanjuntak
17.Hendro Sukmono42.Januminro67.Sri Ardayuni A Supu92.Daved Ogantarah
18.La Kasim43.Joko Hadi Purnomo68.Sirojul Qolbi93.Luh Komang Wijayanti K.
19.Arfanda Siregar44.Marwiyah Tombili69.Agus Cholid Hasyim94.Vivian Yunianto
20.Syafril45.Sudirman70.Hasnawati95.Prasetyo Wibowo
21.Mochammad Sinung Restendy46.Herman Usman71.Andi Fajar Asmari96.Agus
22.Yanuar Arifin47.Tommy Lazuardy, ST72.Faisal Azwar97.Andrika Saputra
23.Pribasari Damayanti48.Imsaralamsyahal-Ma’ariflubis73.Mahmud Rizal98.Rachmat Kurniawan
24.Yuli Restuwardi49.Sonny Stefanus74.Joni Aihery99.Napirman
25.Dessy Arifianto50.Rika Arnelia75.Tri Yunia Metya100.Nugraha Eka Saputra.

Selasa, 23 September 2014

PNPM Tutup Buku

Madiun, 23 September 2014

Oleh:
Abdus Salam As’ad, S.Sos., M.Si.        
Askot CD Mandiri Kab. Madiun   
Koorkot 09 Kota Madiun
OSP 6 Provinsi Jawa Timur
PNPM Mandiri Perkotaan
Perdebatan mengenai keberlangsungan program ini sudah lama mengemuka. Bahkan jauh sebelum pelaksanaan pemilihan umum calon presiden dan calon wakil presiden desas desus keberlanjutan progam ini hangat diperbincangkan oleh pelaku program. Meminjam bahasa Team Leader (TL) OSP 5 PNPM Mandiri Perkotaan Provinsi DI Yogyakarta Nanang Priyana dalam artikel “PNPM Akan Berakhir?”, bahwa tidak hanya orang miskin yang dipertanyakan nasibnya, dan keberlanjutan Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM), tetapi nasib kita sebagai pendamping.
Tak bisa dihindari, program ini menjadi kuda tunggangan dan tersandera untuk mendukung salah satu kandidat calon presiden dan calon wakil presiden beberapa bulan lalu. Tendensius, perbincangan di kalangan pelaku program bahwa jika Si A yang menjadi presiden maka PNPM akan tetap berlanjut, dan jika si B yang menjadi presiden maka PNPM ini akan berakhir. Penilaian ini sah-sah saja. Keyakinan kuat itu kadangkala ditunjukkan untuk mendukung dan melakukan kampanye agar si A bisa terpilih menjadi presiden, semata-mata untuk menjaga agar PNPM bisa berlanjut.
 Inilah yang oleh Karl Mannheim dalam buku “IDEOLOGI and UTOPIA, An Introduction to The Social of Knowledge” agar kita tidak mengingkari kebenaran dan pemikiran yang tidak sejalan dengan kita. Mannheim mencoba bahwa pandangan dan pendapat sebagai produk pemikiran itu lahir dari ruang sosial politik dan kebudayaan yang turut mempengaruhi sesorang dalam cara berpikir. Maka amat wajar, jika kita kaitkan dengan persoalan hajatan demokrasi Indonesia pelaku program terbelah menjadi dua kubu yang memiliki cara pandang politik yang berbeda. Tentu kita harus mengapresiasi perbedaan sebagai wujud dinamika dan kekayaan kita sebagai sebuah bangsa.
Kita tahu, bahwa program ini akan segera tutup buku. Sebagai sebuah produk politik dan kebijakan SBY, program ini hanya diikat oleh peraturan presiden dimana legalitasnya sangat lemah. Oleh karena itu, hal mendasar yang menjadi pekerjaan rumah kita adalah keberlanjutan LKM atau BKM, dan kita. Apakah eksistensi LKM itu seiring dengan adanya BLM? Atau keberadaan LKM itu menjadi payung sosial kultural masyarakat yang akan tetap eksis tanpa adanya BLM?karena banyak masyarakat merasa keberadaan LKM sebagai oase di tengah pembangunan yang dinilai selama ini tidak partisipatif terhadap warga miskin. Bahkan ada sebagian menilai bahwa LKM atau PNPM dinilai sebagai role model dan program yang memiliki kreteria yang berbeda dengan berbagai program yang pernah ada di masyarakat. Sehingga manfaatanya sangat terasa bagi warga miskin.
LKM sebagai Tenda Kultural
Tentu kita memahami gagasan Francis Fukuyama mengenai Modal Sosial. Ia menilai bahwa modal sosial merupakan seperangkat nilai atau norma yang dibawa oleh anggota kelompok di dalam komunitas yang memungkinkan berlangsungnya kerjasama di antara mereka didasari oleh tumbuhnya nilai kepercayaan di antara anggota kelompok. Rasa saling percaya lahir dari norma-norma yang ditumbuhkan di lingkungan keluarga seperti kejujuran, menunaikan kewajiban, bertanggung jawab dan berlangsung secara timbal-balik. Kepercayaan yang dilandasi oleh norma-norma tersebut seperti pelumas yang membuat komunitas atau organisasi dapat dijalankan lebih efisien.
Bahkan, penggagasnya, Robert Putnam mewanti-wanti betapa pentingnya modal sosial itu. Intelektual tak cukup memberi bukti dan memberikan jaminan akan eksistensi dan keberhasilan seseorang di era industrialisasi seperti dewasa ini. Apalagi jika dikaitkan dengan posisi dan keberadaan LKM sebagai tenda, payung masyarakat dimana partisipasi, akuntablitas, integritas, kejujuran menjadi perekat dalam melahirkan harmonisasi sosial masyarakat. Itulah kiranya harapan jangka panjang bahwa LKM tidak sekedar symbol,institusi yang tidak berdampak kepada kemajuan masyarakat. LKM tetap menjadi kelembagaan kultural yang menjadi piranti dalam melahirkan masayarakat yang transparan, jujur, dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai kemanusiaan sebagai jati diri LKM itu sendiri.
Sinergi LKM dengan Pemerintah Desa
Saat ada wacana bahwa PNPM akan tutup buku bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan Presiden SBY, kepanikan pertama tampakya bukan dari masyarakat miskin (PS2) pemerintahan desa atau LKM dimana selama ini menjadi pelopor dalam penanggulangan kemiskinan. Justru kepanikan itu datang dari pelaku kita sebagai pelaku program itu sendiri. Tentu ini menjadi hipotesis kita bersama. Dari berbagai pertanyaan teman-teman mengenai keberlanjutan program, jika dikalkulasi lebih banyak para pendamping ketimbang BKM/LKM yang bertanya mengenai keberlanjutan program.
Karena saya tidak mempunyai kapasitas untuk menjawab atau menjelaskan mengenai keberlanjutan program, saya asal nyeplossaja. Selama Negara ini termasuk Negara berkembang, Negara miskin yang dimiskinkan oleh Negara, maka program pemberdayaan pasti akan berlanjut, entah apa namanya.
Kiranya pertanyaan atau kegelisahan mengenai keberlanjutan program sangat wajar, pengalaman pendamping yang sudah berjibaku dengan masyarakat seolah sulit dipisahkan jika secara tiba-tiba program ini selesai. Hubungan emosional pendamping dengan masyarakat menggambarkan betapa relasi sosial yang dibangun untuk memperjuangkan kesejahteraan warga miskin bukanlah hal mudah.
Ada hal substansial yang perlu dikuliti bahwa eksistensi LKM/BKM tak seindah yang dibayangkan banyak orang atau cita-cita program. Hadirnya LKM sebagai lembaga yang representatif dan mengakar dan mewakili nilai-nilai tidak berkelindan dengan realitas sosial yang ada di masyarakat. Di satu LKM seringkali tidak bisa bersinergi dengan pemerintahan desa untuk bersama-sama memerangi kemiskinan. Hal ini terjadi karena adanya cara pandang yang berbeda dalam penanggulangan kemiskinan. Bahkan lebih tragis, masih ada elit desa yang memandang sebelah mata terhadap keberadaan LKM.
Hal ini terjadi karena, LKM dibentuk menabrak arus mainstream yang ada di masyarakat, sehingga yang mengelola dan menjadi pengurus LKM adalah pilihan masyarakat berdasarkan kreteria baik, jujur, amanah. Fakta ini memutar balik jarum jam sejarah, dimana selama ini pengurus program yang masuk di desa adalah orang yang memiliki relasi dengan elit pemerintahan desa.
Oleh karena itu, di sisa waktu yang ada ini, perlu kiranya LKM meningkatkan sinergi, kolaborasi dan harmonisasi dengan pemerintahan desa. Momentum pelaksanaan review partisipatif ini mampu dijadikan media koordinasi dan komunikasi evaluasi terhadap pelaksanaan program. Akhiri kesan dan stigma bahwa PNPM itu adalah LKM, tetapi PNPM adalah media dan alat bersama untuk menuju masyarakat yang sejahtera. Sehingga sekat yang pernah ada bahwa pemerintahan Desa tidak tahu menahu bahkan tidak mau tahu terhadap PNPM dan LKM adalah kisah sejarah pahit yang hanya melanggengkan kemiskinan warga
PJM Naik Kelas. Kapan?
Tidak bisa mengelak bahwa PJM adalah mahakarya perencanaan masyarakat. Panggung yang diberikan program kepada masyarakat, sehingga masyarakat menjadi pemain dalam pentas pembangunan. Itulah bentuk protes terhadap konsep pembangunan dimana masyarakat tidak dilibatkan selama ini. Partisipatif menjadi doktrin pembangunan untuk mengakhiri marginalisasi dan alinasi masyarakat dimana masyarakat hanya menjadi penonton dan penikmat pembangunan itu sendiri.
Mendorong masyarakat untuk terlibat aktif dalam pembangunan tak semudah membalikkan telapak tangan. Mental menerabas dan pragmatis agak mengganggu proses pembelajaran di masyarakat, walaupun itu diartikan sebagai tantangan bagi kita, para pendamping program. Menempatkan BLM sebagai media pembelajaran masyarakat tidak linear dengan cita-cita program. Dalam waktu bersamaan, BLM justru sebagai tujuan dan puncak kesuksesan program, sehingga alat ukurnya adalah BLM cair ke masyarakat.
Di lain pihak, ada yang bersikukuh bahwa PJM sebagai buah karya masyarakat harus diapresiasi. Jika PJM-nya belum ada, jangan bermimpi BLM bisa dicairkan, apalagi dimanfaatkan. Walaupun ada tetangga sebelah mengatakan, dan sering berbisik, tidak apa-apa, BLM cair, PJM-Renta belakangan.
Tidak hanya berharap, tidak hanya memotivasi apalagi berdoa, bahwa PJM naik kelas menjadi keniscayaan sejarah. Keberlanjutan program ini tidak hanya diikat oleh dana BLM atau segepok uang kemasyarakat. Tetapi menyatu dalam mimpi dan cita-cita bersama melalui perencanaan partisiaptif dan integratif itu.
Beberapa bulan lalu, status editor Website mengenai PJM naik kelas, status itu direspon beraneka ragam utamanya dari pelaku program. Dari berbagai ide, ulasan dan pernyataan yang beraneka ragam, akhirnya TA Kelembagaan dan Pengelolaan Kegiatan Sosial KMP PNPM Mandiri Perkotaan Tomy Risqi muncul memberikan penjelasan singkat mengenai PJM naik kelas.
Tomy menjelaskan bahwa ada mimpi besar yang akan diraih melalui PJM naik kelas. PJM itu harus berorientasi dan mampu menjawab semua persoalan pembangunan dan pro poor. Maka bisa dipastikan manakala PJM naik kelas itu posisi PJM sudah mengakomodasi empat hal. Pertama, berorientasi kawasan. Kedua, responsif gender Ketiga, tanggap bencana dan berbasis mata pencaharian lokal (sustainable livelihood)Keempat, terintegrasi dengan perencanaan lokal, RPJMDES/Renstra Kelurahan dan RKP.
Lantas posisi PJM kita di mana? Dari keempat hal yang menjadi ruh dan substansi PJM naik kelas, kira-kira, PJM kita posisi no berapa? Alih-alih berpikir PJM naik kelas,atau malah masih galau dan gamang PJM kita harus seperti apa? Atau justru muncul anggapan PJM hanya syarat pencairan dan pemanfaatan? Jika itu yang terjadi, PJM naik kelas atau kenaikan kelas PJM ditunda. [Jatim]
Editor: Nina Firstavina

Bank Dunia: Penurunan Kemiskinan di Indonesia Melambat, Ketimpangan Meningkat

Selasa, 23 September 2014

Mang Enang, sehari-harinya beliau dipanggil. Sudah 21 tahun Pria asal Garut tersebut menjadi Tukang Sol di Pasar Way Halim, Bandar Lampung. "Sebelum menetap di Lampung, saya jadi tukang sol selama 10 tahun di Jakarta" Ujar Mang Enang. Pemerintahan telah berganti, tapi beliau tetap setia dengan profesinya. Pendapatannya tidak pernah menentu. Selama 31 tahun jadi tukang sol, belum pernah dapat perhatian Pemerintah. Beliau adalah potret rakyat yang Mandiri. 70% rakyat Indonesia seperti Mang Enang. Mengandalkan hidup dari sektor informal. (Dok. Pribadi)

Jakarta, Media Warga Online – Meski penurunan kemiskinan di Indonesia terus melambat, tingkat penurunannya hanya 0.7 persen untuk tahun 2012-2013 – tingkat penurunan terkecil dalam satu dekade terakhir, menurut Bank Dunia dalam rilis yang diterima Mediawarga.info, Selasa (23/09).

Ketimpangan juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir yang berpotensi menciptakan konflik sosial. Hal ini akan  mengurangi manfaat dari tingginya pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir,  selama ini pertumbuhan ekonomi dapat mengurangi tingkat kemiskinan menjadi 11,3%  pada tahun 2014, dari 24% pada tahun 1999.  

Sekitar 68 juta penduduk Indonesia tetap rentan untuk jatuh miskin. Pendapatan mereka hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga miskin.  Guncangan ekonomi seperti jatuh sakit, bencana atau kehilangan pekerjaan, dengan mudah dapat membuat mereka kembali jatuh miskin. 

Kedua tantangan ini, yakni penurunan kemiskinan yang melambat dan ketimpangan yang meningkat, menjadi fokus konferensi Bank Dunia yang dihadiri oleh beragam masyarakat Indonesia dan dibuka oleh Wakil Presiden, Dr. Boediono.

“Mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan akan menjadi tantangan paling penting bagi Pemerintah Indonesia mendatang.  Dengan melakukan implementasi kebijakan-kebijakan publik yang efektif, demikian dengan kemitraan sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil, Bank Dunia yakin, Indonesia akan membuat kemajuan yang substansial. Mengentaskan kemiskinan dan berbagi kesejahteraan merupakan misi Bank Dunia, dan kami akan mendukung pemerintahan baru dalam mencapai tujuan-tujuan ini, “kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A. Chaves.

Meningkatnya ketimpangan juga membuat mereka yang miskin lebih sulit lagi untuk keluar dari kemiskinan.  Koefisien Gini, yang mengukur ketimpangan konsumsi, telah meningkat dari 0,30 pada tahun 2000, menjadi sekitar 0,41 pada tahun 2013.  Kesenjangan antar daerah tetap ada. Indonesia Timur tertinggal dari wilayah lain di negara ini, terutama Jawa. Akibatnya, meski upaya mengurangi kemiskinan mengalami kemajuan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan ketimpangan tercepat di kawasan Asia Timur .

Ketimpangan merupakan konsekuensi pertumbuhan yang bisa dihindari.  Ekonomi negara-negara berkembang lain telah berhasil tumbuh dan pada saat yang sama, terus berupaya menekan tingkat kemiskinan dan ketimpangan.

“Strategi utama untuk mengentaskan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan adalah dengan membantu masyarakat miskin menolong diri mereka sendiri, melalui penyediaan lebih banyak pekerjaan dan pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih baik. Kita juga perlu memastikan anak-anak di seluruh Indonesia memiliki akses yang sama ke layanan yang berkualitas, agar mereka dapat memulai hidupnya secara adil," menurut Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia, Vivi Alatas.

Peningkatan anggaran untuk program-program jaring pengaman sosial (social safety net) akan membantu meningkatkan akses keluarga miskin terhadap layanan kesehatan, gizi yang lebih baik dan pendidikan yang berkualitas. Hal ini meningkatkan peluang mereka untuk lepas dari kemiskinan. Saat ini, Indonesia hanya menghabiskan 0,7% dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) untuk  program-program bantuan sosial, dibandingkan dengan Brasil yang menggunakan 1,5% dari PDB-nya dan negara-negara berpenghasilan menengah rendah lainnya.

Konferensi ini didukung oleh Pemerintah Australia, mitra Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia dalam mendorong pengentasan kemiskinan dan pembangunan ekonomi secara berkelanjutan.

Gawat! Internet Indonesia Terancam Mati Total

Achmad Rouzni Noor II - detikinet

Selasa, 23/09/2014 19:07 WIB
Halaman 1 dari 2

Jakarta - Dalam waktu satu hingga dua minggu ke depan, internet di Indonesia terancam bisa mati total. Pasalnya, seluruh penyelenggara jasa internet yang ada di negeri ini -- yang jumlahnya lebih dari 200 ISP, tak mau bernasib sama layaknya Indar Atmanto, mantan Dirut Indosat Mega Media (IM2) yang berakhir masuk penjara.

Kekuatiran para penyelenggara ISP ini sangat beralasan. Mereka menilai, apa yang telah dilakukan Indar sudah sesuai dengan peraturan dan telah dianggap benar oleh regulator telekomunikasi seperti Kementerian Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Namun nyatanya, Indar tetap masuk penjara.

Dalam pertemuan di Kantor Pusat PT Indosat, komunitas penyelenggara jasa internet ini pun kemudian bersepakat untuk mengirimi surat kepada Kementerian Kominfo dan Mahkamah Agung (MA) untuk menanyakan kejelasan status hukum dalam berbisnis jasa ISP layaknya yang telah dilakukan oleh IM2.

"Kami akan mengirimkan surat ke Kominfo minggu ini, untuk menanyakan status lisensi yang diberikan pemerintah kepada kami apakah masih berlaku atau tidak," kata Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Semmy Pangerapan, Selasa (23/9/2014).

"Kami juga akan kirim surat untuk minta fatwa ke MA, apakah izin yang dimiliki ISP ini bisa berdampak ke semua. Karena hampir sebagian besar ISP menggunakan skema bisnis yang sama seperti IM2 dan Indosat," lanjutnya dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 30 orang perwakilan ISP dan para pegiat teknologi seperti Onno Widodo Purbo, mereka pun sepakat untuk membuat gerakan pita hitam demi solidaritas untuk terus memberikan dukungan terhadap Indar Atmanto.

"Kalau misalnya nanti jawaban MA fatwanya berlaku sama, maka 71 juta pengguna internet di Indonesia akan terancam tidak dapat akses internet karena akan mati total. Target pemerintah untuk 110 juta pengguna internet di 2015 juga mustahil tercapai," sesal Andi Budimansyah, Ketua Umum Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi).
Menurut Irvan Nasrun, Chief of Network Security APJII, jika internet di Indonesia mati total akan menyebabkan kerugian yang luar biasa dahsyatnya. Dalam hitung-hitungannya, transaksi internet di Indonesia menghasilkan uang Rp 3 miliar setiap dua menit. Itu artinya, ada Rp 90 miliar tiap jam yang akan hangus.

Pihak yang akan mengalami kerugian sudah barang tentu industri yang berkaitan dengan transaksi keuangan dan internet. Seperti perbankan, bursa saham, online trading, dan lainnya. Termasuk juga situs berita, social media, instant messaging, kampus, dan masih banyak lagi.

"Kami di sini semua taat hukum, tapi kami calon napi. Daripada kami semua masuk penjara, lebih baik kami matikan saja koneksi internetnya kalau setelah dievaluasi satu-dua minggu dari sekarang hasil dari fatwa MA tetap sama dan berlaku untuk semua," pungkas Semmy yang mendapat dukungan dari kolega penyelenggara jasa internet lainnya.

Seperti diketahui, Indar dinyatakan bersalah atas kasus tuduhan korupsi pengadaan jaringan 2,1 GHz/3G PT Indosat dan divonis 8 tahun penjara. Ia kemudian dipaksa masuk ke LP Sukamiskin setelah upaya kasasinya ditolak MA dan kemudian dieksekusi Kejaksaan Agung (Kejagung).

Selain vonis penjara, Indar juga harus membayar denda Rp 300 juta subsider kurungan 6 bulan. Dalam putusan kasasi, MA juga menghukum IM2 untuk membayar uang pengganti Rp 1.358.343.346.670. Kejagung selaku eksekutor juga memerintahkan IM2 untuk membayar uang pengganti tersebut.