PNPM Mandiri Perkotaan

PNPM Mandiri Perkotaan
Bersama Membangun Kemandirian

Kamis, 04 Desember 2014

Revolusi Pemberdayaan Menuju Masyarakat Madani


Oleh:
Muhammad Ali, S.Pd, M.Pd. Askot CD Kota Bukittinggi 
OC 1 Provinsi Sumatera Barat
PNPM Mandiri Perkotaan
Filosofi pemberdayaan adalah pemanusiaan manusia, di mana pemberdayaan mengambil peranan penting dalam memberdayakan manusia menuju fitrahnya dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta mengedepankan kejujuran dan kepedulian terhadap sesama. Proses pemberdayaan yang dilakukan akan mempengaruhi karakteristik dari manusia itu sendiri. Bagi yang mengaktualisasikan hasil pemberdayaan yang baik maka secara otomatis akan menjadi manusia yang memiliki performa yang baik pula. Sebaliknya jika pendidikan yang didapatkan tidak mampu membuat karakter yang baik maka pribadi manusia tersebut akan menjadi buruk pula terhadap lingkungannya.
Hakikat pemberdayaan masyarakat adalah peningkatan kualitas masyarakat itu sendiri, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak terbiasa menjadi terbiasa. Yang paling penting adalah bagaimana menciptakan masyarakat paripurna, yang bisa bermanfaat untuk sesama.
Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk melahirkan embrio pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya lokal agar bisa keluar dari rantai kemiskinan. Selain itu melalui pendidikan pemberdayaan diharapkan adanya kemampuan dan keterampilan serta aksesibilitas bagi masyarakat, agar dapat mengelala pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, kerajinan. Tidak kalah pentingnya, tujuan yang diharapkan dari pendidikan pemberdayaan ini adalah bagaimana masyarakat itu sendiri mampu melembagakan pemecahan persoalan yang dihadapi dengan mengoptimalkan potensi wilayah masing-masing dan membina masyarakat agar mampu mengembangkan diri dan mencari inovasi-inovasi yang bersifat partisipatoris yang bermuara pada pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan kelompok masyarakat.
Untuk menuju pemberdayaan masyarakat yang bermuara pada pemberdayaan masyarakat madani maka penulis akan mengembangkan tulisan ini terkait dengan masyarakat madani. Masyarakat madani lahir dari rahim sosial sebuah kota. Kota Madinah. Kota ini, pada kepemimpinan Nabi Muhammad, SAW sudah memperlihatkan peradaban yang tinggi. Realitas sosial yang terjadi saat itu telah memperlihatkan suatu interaksi sosial kuat antara sesama masyarakat, sehingga kekuatannya penuh dan paripurna, tidak menerima intervensi lain untuk sebuah perubahan. Selain kemerdekaan penuh dan mutlak, Negara juga ditandai dengan suasana yang harmonis. Sesama umat saling membantu, kekeluargaan tercipta dengan akrab, gerakan sukarela tergambar dengan jelas tanpa pamrih, sehingga menyebabkan masyarakat tersebut kuat di dalam dan disegani pihak luar. Yang menjadi catatan adalah kekuatan Madina bukan dilihat dari perspektif militernya, melainkan prinsip kebersamaan yang dibangun senasib sepenanggungan, yang telah menjadi kultur.
Sebagai referensi ciri khusus masyarakat madani adalah pertamamasyarakat yang egalitarianisme. Yaitu adanya penghargaan kepada manusia berdasarkan prestasi, bukan pada aspek senang atau tidak senang.
Keduamenjunjung tinggi keadilan. Dalam penegakan hukum tidak pandang bulu. Siapa bersalah tetap mendapat hukuman jika terbuki melakukan kesalahan.
Ketigabertuhan. Artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat beragama, yang mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang mengatur kehidupan sosial.
Keempattolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain, yang dapat mengurangi kebebasannya.
Kelimatoleran. Artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh Allah sebagai kebebasan manusia, dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas orang lain yang berbeda tersebut.
Keenamkeseimbangan antara hak dan kewajiban sosial. Setiap anggota masyarakat memiiki hak dan kewajiban yang seimbang untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan keutuhan masyarakat sesuai dengan kondisi masing-masing.
Ketujuhberperadaban tinggi. Artinya, masyarakat tersebut memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan hidup manusia.
Kedelapanberakhlak mulia. Artinya masyarakat madani memiliki akhlak mulia, yang membuat mereka lebih tinggi peradabannya dari bangsa lainnya.
Dalam istilah barat masyarakat madani dikenal dengan nama civil society. Secara substansi civil society sama dengan masyarakat madani, dan mempunyai ciri masyarakat seperti yang sudah disebutkan di atas. Eksistensi masyarakat madani atau civil societymenekankan adanya kepedulian sesama dan saling tolong menolong serta kemerdekaan mutlak. Namun, seiring perkembangan zaman, prinsip masyarakat madani hanya tinggal sejarah. Yang terjadi saat ini muncullah masyarakat yang apatis dan konsumtif yang mementingkan diri sendiri.
Civil society menekankan pentingnya kepedulian sesama, tidak ada kasta dan spasial antara si miskin dan si kaya. Bagi anggota masyarakat yang memiliki kelebihan harta memiliki rasa untuk berbagi dengan si miskin, sehingga tidak ada kejahatan yang membayangi karena masyarakatnya sejajar. Selain itu, civil society juga menekankan pentingnya tata aturan dan pentingnya kelompok, karena dengan berkelompok penyelesaian persoalan akan lebih cepat daripada sendiri-sendiri.
Konsep pemberdayaan pada substansinya adalah menjadikan masyarakat yang mampu menerapkan civil society dalam berkehidupan agar terjadi keseimbangan di tingkat masyarakat, sehingga tidak terjadi kesenjangan dalam berkehidupan. Maka untuk menciptakan pemberdayaan yang berorientasi pada civil society sudah saatnya dilakukan revolusi pemberdayaan yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
Pertama, pemberdayaan menuju egalitarianisme. Dalam catatan situs wikipedia, egalitarianisme merupakan sebuah anggapan bahwa semua manusia sama dan tidak mengenal kasta. Pemberian reward didasarkan pada kinerja, bukan pada faktor lain. Persamaan hak ini menyatakan bahwa semua orang harus diperlakukan secara setara dan memiliki hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan sipil yang sama. Atau dalam pengertian filsafat sosial penganjuran penghapusan kesenjangan ekonomi antara orang-orang, atau adanya semacam redistribusi/desentralisasi kekuasaan. Dalam hal ini, beberapa pihak menganggapnya sebagai keadaan alami dari sebuah masyarakat.
Permasalahan sosial yang selalu muncul adalah adanya kesenjangan yang terjadi di masyarakat antara si kaya dan si miskin, strata sosial yang terlalu tinggi, kekuasaan yang tidak terbatas, sehingga mengedepankan kepentingan kelompok dan menyebabkan terjadinya jurang sangat terjal antara yang beruntung dengan yang belum beruntung. Dengan adanya persoalan ini diharapkan adanya penyeimbang agar tidak terjadi kesenjangan dalam kehidupan sosial maka dibutuhkan pemerdayaan manusia.
Substansi pemberdayaan adalah memberikan kemampuan kepada kelompok yang lemah untuk kuat dan mampu mengorganisir sendiri kemampuannya agar terbebas dari dehumanisasi. Sedangkan dalam konsep makro bukan hanya sebatas itu saja. Pemberdayaan lebih dititikberatkan kepada pendidikan untuk mampu melakukan olah rasa, olah pikiran, untuk mampu menempatkan kepedulian yaitu kepedulian antara orang yang mampu untuk memperhatikan yang lemah, orang kuat membimbing yang lemah, orang kaya berbagi dengan si miskin. Dan sebaliknya, orang miskin, orang lemah dan orang yang tidak memiliki ilmu, diharapkan juga membuka diri terhadap ketidakmampuannya, sehingga kehidupan lebih seimbang.
Revolusi pemberdayaan dalam aspek egalitarianisme lebih menitikberatkan pada pembaharuan praktikal dari proses pemberdayaan itu sendiri. Jika selama ini praktik pemberdayaan lebih berorientasi memberikan kemampuan kepada yang lemah untuk mampu dan sejahtera, sehingga aspek sumberdaya manusianya meningkat. Maka ke depan diharapkan proses pemberdayaan bukan hanya tertumpu kepada yang lemah, tapi juga pemberdayaan kepada pada orang yang memiliki kemampuan dan kekayaan. Aspek yang disentuh adalah memberdayakan kepeduliannya.
Metode yang dilakukan seorang pemberdayaan harus mampu memetakan potensi orang-orang yang berkecukupan untuk dilakukandirect selling dalam rangka pemberian pemahaman yang paripurna pentingnya kepedulian kepada sesama. Wujud kepedulian mereka bisa dilayani melalui keterlibatan langsung untuk ikut menggalang kepedulian kepada kaum lemah atau dengan menyumbangkan sebagian harta kekayaan mereka melalui zakat kepada si miskin agar dapat dimanfaatkan untuk memberikan penguatan kepada kaum lemah terkait peningkatan sumberdaya manusia.
Selain pemberdayaan zakat, aspek lain yang bisa dilakukan adalah memunculkan isu krisis kemiskinan dan diharapkan masyarakat bersama-sama memberikan donasi untuk penanggulangan krisis tersebut. Sebagai gambaran begitu besarnya dampak kepedulian melalui donasi rupiah bisa dilihat pada kasus Prita yang menyita perhatian publik karena memiliki kasus ketidakadilan antara yang kuat dengan yang lemah. Ketika kasus ini muncul ke permukaan, luar biasa perhatian publik. Sebagai wujud dari perhatiannya muncul uluran tangan dalam bentuk donasi untuk membantu kepada Prita terbebas dari hukuman. Inilah yang diharapkan; kalau sudah muncul kepedulian kepada sesama maka kekuatan akan muncul untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang timbul.
Kedua, menjunjung tinggi nilai keadilan. Dalam pemberdayaan keadilan dinilai dari aspek keterlibatan masyarakat dalam proses pemberdayaan. Ketika pemberdayaan sudah mengarah pada kelompok sepihak maka akan menyebabkan ketidakadilan, dan proses pemberdayaan tidak terwujud. Keadilan yang dijunjung dalam pemberdayaan adalah menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam proses. Keadilan dalam proses pemberdayaan juga dimaknai sebagai proses keadilan dalam proses pemberdayaan tersebut.
Keadilan dimaksud di sini adalah ketika melakukan pemberdayaan, ada beberapa strata sosial yang terkadang terlupakan di tingkat masyarakat. Guna memandang “semua sama” dalam proses pemberdayaan, masyarakat segala lini dilibatkan. Proses pengambilan kebijakan juga mengarah kepada keadilan, bukan keberpihakan. Karena keberpihakan akan menimbulkan terputusnya rantai pemberdayaan.
Ketigapemberdayaan yang mengedepankan prinsip tolong-menolong. Tolong menolong dalam pemberdayaan diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan dalam rangka memberikan kekuatan atau penguatan kepada masayarakat, dilakukan secara ihklas. Bukan karena didasari aspek kebutuhan material, melainkan karena keinginan untuk membantu sesama. Niat baik jadi motivasi yang kuat dan bisa menjadi cambuk untuk sebuah perjuangan.
Hal itulah yang selama ini hilang. Banyak pemberdayaan yang dilakukan hanya karena kepentingan, bukan karena alasan kemanusiaan. Maka ke depan diharapkan sebuah perubahan yang baik, sehingga pemberdayaan semakin kokoh bertengger, benar-benar demi kepentingan kemanusiaan. [Sumbar]

Editor: Nina Firstavina

Selasa, 02 Desember 2014

Alternatif solusi pemasaran produk para UKM

Dear Rekans UKM,
Dapatkan Solusi untuk UKM Indonesia Hebat melalui ZAPA, aplikasi CRM berbasis Mobile Apps untuk UKM Hebat.
ZAPA, diambil dari kata "sapa" memang merupakan mobile apps yang bertujuan sebagai media komunikasi antara Telkom dan UKM maupun komunikasi antar sesama UKM.
ZAPA terdiri atas 2 kategori utama yaitu My Telkom dan My UKM dengan fitur fitur sbb :
  1. My Telkom, terdiri dari :
    • Profil : profil UKM yang mendaftar di ZAPA
    • Produk : deskripsi produk – produk Telkom yang bermanfaat bagi UKM. UKM juga dapat melakukan order produk Telkom tsb langsung dari aplikasi ini
    • Status Order : UKM yang sudah melakukan order produk Telkom dapat melihat status delivery ordernya pada menu ini
    • Tagihan : informasi tagihan dari produk Telkom yang digunakan oleh UKM
    • Near Me : informasi kantor Telkom dan lokasi UKM lainnya yang terdekat ke lokasi UKM saat itu
    • Pengaduan : layanan pengaduan terhadap produk / layanan Telkom yang dapat dilakukan via Live Chat langsung dari mobile maupun pengaduan via telepon 500250
  2.  My UKM, terdiri dari :
    • Acara : jadwal event yang berkaitan dengan UKM
    • Direktori UKM : info seputar UKM yang dibagi dalam beberapa direktori sesuai bidang usaha UKM
    • Forum : media komunikasi antar UKM dan Telkom, baik terkait topik produk produk Telkom maupun topik seputar pengembangan bisnis UKM
ZAPA  sebagai media komunikasi antar UKM dapat meningkatkan peluang pasar bagi UKM dengan adanya info seputar UKM dalam Direktori UKM, peningkatan wawasan pelaku UKM melalui Forum komunikasi antar UKM dan juga informasi jadwal event terkait pengembangan bisnis.
ZAPA memberikan kemudahan mendapatkan layanan ICT dan memantau perkembangan delivery order dan penanganan gangguan, pembayaran tagihan produk Telkom secara langsung dan transaksi bisnis antar UKM, KAPAN SAJA DAN DIMANA SAJA.
Bergabunglah segera, download aplikasinya di Playstore / Google Play, install di mobile gadget dan Login (dapat dilakukan melalui akun facebook ataupun register langsung pada aplikasi).
Dengan ZAPA, dapatkan peluang bisnis anda dan nikmati hasilnya!


*info ini sementara baru kita peroleh via email, untuk tindak lanjutnya, kami dari OC-3 rencananya akan melakukan audiensi khusus kepada telkom pada hari selasa 9 desember 2014, untuk menggali informasi ini lebih dalam dan melihat peluang yang mungkin dibangun bersama khususnya dalam upaya meningkatkan nilai pemasaran bagi para UKM warga miskin dampingan PNPM Mandiri Perkotaan di 88 Kelurahan/Desa se-Kalbar, semoga berbuah manis dan bermanfaat buat peningkatan penghidupan bagi warga miskin sekaligus sebagai bentuk kontribusi dunia usaha dalam penanggulangan kemiskinan khususnya di kalimantan barat.

Editor :
Agus sarwoko

9 Program Prioritas Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi

Achmad Zulfikar Fazli

Marwan Jafar--MI/Sugeng
Marwan Jafar--MI/Sugeng
Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mencanangkan 9 program kerja prioritas untuk lima tahun ke depan.

Pertama, peluncuran gerakan desa mandiri di 3.500 desa yang akan dimulai pada tahun 2015. Kemudian, pendampingan dan penguatan kapasitas kelembagaan dan aparatur 3.500 pada desa yang dimulai pada 2015.

"Ketiga, pembentukan dan pengembangan 5.000 BUMDES (Badan Usaha Milik Desa)," kata Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi Marwan Jafar di Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi, Jalan Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2014).

Prioritas program kerja Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi yang keempat yakni melakukan revitalisasi pasar desa di 5.000 desa atau kawasan pedesaan. Kelima, pembangunan infrastruktur jalan pendukung pengembangan produk unggulan di 3.500 desa mandiri.

Kemudian keenam, penyiapan implementasi penyaluran dana desa Rp1,4 miliar per desa secara bertahap. Ketujuh, penyaluran modal bagi koperasi atau UMKM di 5.000 desa. "Kedelapan, pilot project sistem pelayanan publik jaringan koneksi online di 3.500 desa," lanjut dia.

Terakhir kesembilan, 'save villages' desa perbatasan dan pulau-pulau terdepan, terluar dan terpencil menjadi prioritas kementerian PDT dan Transmigrasi.
LAL    

Kamis, 27 November 2014

26 Fakta Alam Semesta yang Bikin Merinding dan Merenung...

26 Fakta Alam Semesta yang Bikin Merinding dan Merenung...

Sains
By Elin Yunita Kristanti 

Liputan6.com, Jakarta - Pada 2011 lalu, para ilmuwan dari University Portsmouth membuat peta tiga dimensi alam semesta. 2MASS Redshift Survey (2MRS) -- namanya -- mencakup jarak 380 juta tahun cahaya, 45.000 galaksi tetangga selain Bima Sakti. Itu pun belum semua. 

Alam semesta sedemikian luas. Lalu di mana posisi kita, manusia? Berikut gambarannya seperti Liputan6.com kutip dari situs BuzzFeed, Sabtu (25/11/2014).

1. Ini Bumi, tempat tinggal kita, di mana kita hidup, tumbuh, berkembang biak, menjalin hubungan, sekaligus juga saling berperang dan menyakiti.



2. Dan ini Bumi bersama para tetangganya planet di Tata Surya


3. Ini jarak antara Bumi dan Bulan, satelitnya: 384.400 km. Terasa dekat namun nyatanya jauh bukan?


4. Ini yang terjadi jika Anda menjejerkan semua planet dalam Tata Surya secara beraturan dan berjajar. Lihat betapa kecil Bumi kita


5. Ini Amerika Utara jika dibandingkan dengan planet terbesar dalam Tata Surya: Yupiter.


6. Ini ukuran enam Bumi dibandingkan dengan Saturnus. Kalah besar!
7. Seandainya Bumi memiliki cincin seperti Saturnus, maka akan seperti ini penampakannya


8. Ini adalah gambar komet. Manusia baru mendaratkan satelit di atas 'anak nakal' ini. Bandingkan ukuran satu komet dengan Kota Los Angeles di Amerika Serikat.

9. Namun tak ada objek di Tata Surya kita yang setara dengan ukuran Matahari. Bumi kita tak ada artinya.



10. Seperti ini penampakan Bumi jika dilihat dari Bulan


11. Dan seperti ini bentuk Bumi dari Mars. Nyaris tak terlihat


12. Bumi bak noktah kecil warna biru jika dilihat dari belakang cincin Saturnus
13. Dan ini Bumi dari Neptunus yang berjarak 4 miliar mil jauhnya


14. Ini ukuran Bumi dibandingkan dengan besar Matahari. Benar-benar tak sebanding. Bikin merinding...


15. Dan seperti ini bentuk Matahari jika dilihat dari permukaan Mars
16. Tapi semua itu tak ada apa-apanya. Ada lebih banyak bintang, seperti halnya Matahari, dibanding butiran pasir di setiap pantai di Bumi.


17. Dan itu berarti ada banyak yang lebih besar daripada Matahari kita. Lihatlah betapa kecilnya Sang Surya dibandingkan yang lain.
18. Tahukah Anda, bintang terbesar di alam Semesta, VY Canis Majoris ukurannya 1 miliar kali lebih besar dari Matahari.


19. Namun tak ada yang sebanding dengan ukuran galaksi. Jika Anda menyusutkan Matahari ke ukuran sel darah putih dan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dengan skala yang sama -- maka galaksi kita berukuran setara dengan Amerika Serikat.


20. Itu karena Galaksi Bima Sakti sangatlah luas. Dan di tengah belantara luas itu lah manusia hidup.


21. Namun hanya ini yang bisa disaksikan manusia. Semua bintang yang kita saksikan malam hari hanya seukuran lingkaran kuning itu.
22. Tapi, ukuran galaksi kita sangat kerdil jika dibandingkan yang lain. Ini perbandingan Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dengan IC 1011, yang berjarak 350 juta tahun cahaya dari Bumi.


23. Marilah kita membuka pikiran. Ini hanyalah sebagian kecil gambar yang diambil Teleskop Hubble. Ada ribuan galaksi, yang masing-masing memiliki jutaan bintang. Masing-masing memiliki planet-planetnya sendiri.


24. Dan ini adalah gambar galaksi UDF 423. Yang berjarak 10 miliar tahun cahaya dari Bumi. Saat Anda melihat gambar ini, Anda melihat miliaran tahun ke masa lalu.


Sejumlah galaksi diperkirakan terbentuk hanya beberapa ratus juta trahun  setelah Dentuman Besar (Big Bang). Lebih tua dari galaksi kita. 

25. Dan camkan yang satu ini. Ini adalah gambar dari satu bagian kecil yang sangat, sangat kecil dari alam semesta. Bagai bagian tak penting di langit malam. 


26. Cukup aman untuk mengasumsikan ada banyak lubang hitam (black hole) di luar sana. Berikut ini adalah ukuran sebuah black hole dibandingkan dengan ukuran Bumi. Mengerikan...


Dan, jika Anda merasa kecewa berat gara-gara konser penyanyi kesukaan Anda dibatalkan. Saat merasa dunia runtuh ketika diputuskan pacar. Ingatlah...


Mengurai Konflik dalam UU Desa

Madiun, 27 November 2014

Oleh:
Abdus Salam As’ad, S.Sos., M.Si.        
Askot CD Mandiri Kab. Madiun   
Koorkot 09 Kota Madiun
OSP 6 Provinsi Jawa Timur
PNPM Mandiri Perkotaan
Kesejahteraan masyarakat desa kiranya menjadi orientasi pertama dan utama jika kita melihat secara kasat mata lahirnya UU Desa. Walaupun tak bisa ditampik, nuansa politik tak bisa dimungkiri. Pembangunan yang partisipatif dan otonom sudah mengemuka dari tahun 1950-an. Sentralisasi kekuasaan dinilai mereduksi kaidah dan prinsip pembangunan seutuhnya. Solusinya, desentralisasi pembangunan menjadi jawaban atas stagnasi pembangunan yang berorientasi pada pembangunan manusia. Tentu kita bisa menilai, diberlakukannya UU otonomi daerah 32/2004 passca perubahan UU No.  22 tahun 1999. Desentralisasi ini memiliki cita-cita dan spirit untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat di daerah. Konsekuensi logisnya adalah pelibatan masyarakat dalam setiap aspek pembangunan multak diperlukan. Partisipasi masyarakat menjadi kuci utama dan pertama dalam pembangunan desa ke depan.
Banyak harapan terkait dengan diberlakukannya UU Desa. Kesejahteraan masyarakat desa merupakan tujuan utama. Walaupun banyak pihak menilai bahwa UU Desa sebenarnya bukan menguntungkan masyarakat desa, tetapi para politisi. Di satu sisi penilaian sebagian kalangan memiliki keabsahan. UU Desa yang dinilai syarat politis tak bisa dihindari. Jangkar sosial dalam legitimasi politik para politisi dengan adanya UU Desa menuai hasilnya pada Pemilihan Legislatif kemarin. Sementara UU Desa akan mengalami persoalan serius manakala kemampuan APBN dalam membiayai 73.000 desa seluruh Indonesia dengan batas maksimal Rp1,4 miliar per desa itu tidak mencukupi. Alih-alih mempercepat kesejahteraan masyarakat desa, justru UU Desa akan melahirkan konflik baru bagi sebagian masyarakat yang ada di desa, baik konflik manifes maupun konflik laten.
Implikasi UU Desa yang mengalokasikan anggaran Rp1,4 miliar, itu menjadi pesona bagi masyarakat desa. Elit desa tentu tidak memiliki tafsir tunggal terhadap UU Desa. Aneka kepentingan tentu menjadi orientasi yang sulit diingkari. Dalam sistem demokrasi yang prsedural dan panggung partisipasi masyarakat yang kurang partisipatif akan menuai banyak persoalan. Demokrasi dan partisipasi lip service akan menjadi pertunjukan yang diperankan oleh segelintir elit desa. Masyarakat miskin hanya menjadi penoton yang kerapkali dijadikan dagangan. Hal ini bercermin terhadap proses terbentuknya berbagai organisasi masyarakat lokal.
Elit desa baik struktural dan kultural tak bisa dilepaskan dan menjadi pemeran kunci dari berbagai aspek pembangunan. Masyarakat miskin tak kuasa menjadi aktor dalam setiap pembangunan, sehingga peran yang digunakan adalah keterlibatan semu tidak bisa dihindari. Hal ini terjadi karena, warga miskin seringkali terkooptasi oleh pemikirannya sendiri bahwa orang miskin tak perlu tahu menahu terkait pembangunan. Bahkan lebih tragis adalah proses peminggiran (segregasi) sosial yang dilakukan elit itu semakin menegaskan ketidakmampuan warga miskin untuk berkiprah dalam panggung pembangunan.
Fakta di atas ini menemukan relevansinya manakala meminjam istilah Gabriel A. Almond dan Sidney Verba mengenai tipe budaya politik. Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, (1996) menjelaskan mengenai tipe budaya politik.
Pertama, tipe budaya politik parokial (parochial political culture). Dalam hal ini masyarakat sangat rendah dan tidak mau tahu mengenai perubahan sistem politik yang ada. Pengetahuan masyarakat mengenai politik berimplikasi kepada sikap acuhnya kepada struktur politik yang ada. Dan pada gilirannya budaya tunduk terhadap elit yang dinilai memiliki pengetahuan lebih tak bisa dihindari. Lantas apa yang bisa diharapakan manakala budaya masyarakat dengan tingkat kesadaran dan partisipasinya sangat rendah, maka kasta politik tak bisa dihindari. Para elit akan menjadi mufassir terhadap persoalan dan kebutuhan masyarakat miskin yang sebenarnya, reduktif dan ahistoris yang akan terjadi.
Kedua, budaya politik subjek (subject political culture). Dalam budaya politik masyarakat tipe ini masyarakat sudah menggunakan letupan emosi untuk menilai sistem politik atau objek politik, sehingga tidak heran masyarakat dalam kategori ini bisa menilai, memilah dan memilih kualitas pemimpinnya. Iklan politik atau simbol-simbol politik seringkali dinilai sebagai produk citra yang sengaja dibangun untuk mengelabui masyarakat bahwa para politisi seolah-olah berpihak kepada warga miskin.
Dan yang ketiga, budaya politik partisipan (partisipant political culture). Inilah puncak tingkatan budaya politik masyarakat. Di mana masyarakat memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap politik, dalam hal ini masyarakat sudah mampu melakukan evaluasi dan mengkritisi sistem politik dan kebijakan yang dilakukan oleh Negara.
Jika kita melakukan pisau analissnya Almond dan Verba maka UU Desa akan menjadi buaian mimpi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat miskin yang ada di desa. Tengok saja pembangunan desa selama ini. Acuhnya masyarakat terhadap pembangunan desa dengan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) menjadi miniatur bahwa partisipasi masyarakat desa terutama masyarakat miskin hanya pepesan kosong belaka. Tradisi feodalistik kerapkali kita temui dalam kepemimpinan pemerintahan desa.
Tak hanya itu, ragam persoalan akan dihadapi oleh pemeritahan dan warga desa. Dana Rp1,4 miliar sebagai “mandat” UU akan menuai konflik manakala dalam implementasinya dana tersebut meleset dengan harapan masyarakat maupun pemerintahan desa. Alokasi anggaran hanya menjadi lipstik para politisi kita tanpa memikirkan kemampuan anggaran yang ada. Dan pada gilirannya, harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Di sinilah Robert Gurr (1970), seorang ilmuwan sosial, memberikan analisisnya akan lahirnya konflik dan kekerasan dengan menggunakan teori deprivasi relatif. Gurr menilai bahwa kekerasan muncul karena adanya deprivasi relatif yang dialami masyarakat sebagai perasaan kesenjangan antara nilai harapan (value expectation) dengan kapabilitas nilai(value capabilities) yang dimiliki seseorang. Nilai harapan (value expectation) adalah harapan akan kualitas hidup kehidupan sebagai hak untuk dinikmati. Sedangkan nilai kapabilitas (value capabilities) sebagai kondisi untuk mendapatkan harapan itu. Bahkan, Gurr meyakini bahwa ketidakpuasan deprivatif relatif akan melahirkan terjadinya berbagai aksi kekerasan massal. Karena semakin besar intensitas ketidakpuasan, semakin besar pula dorongan untuk melakukan kekerasan.
Tampaknya UU Desa sebagai angin segar bagi masyarakat desa untuk menikmati kualitas hidup dan kesejahteraan patut diapresiasi. Akan tetapi, jika harapan itu tidak sesuai kenyataan tentu apa yang dikhawatirkan oleh Gurr tidak bisa dihindari. Konflik vertikal antara pemerintahan desa terhadap pemerintahan yang ada di atasnya tidak bisa dihindari. Tuntutan disahkannya UU Desa beberapa tahun yang lalu tidak seindah yang dibayangkan. Akan tetapi, menjadi harapan kita semua bahwa dana Rp1,4 miliar itu tidak hanya menjadi konsumsi politik dan dagangan para politisi. Pun tidak hanya sekedar normatif tertuang dalam UU N0 6 2014 maupun PP No 43 2014. Melainkan riil bisa dibuktikan kepada publik. Semoga. [Jatim]

Editor: Nina Firstavina