PNPM Mandiri Perkotaan

PNPM Mandiri Perkotaan
Bersama Membangun Kemandirian

Minggu, 26 Juli 2015

KEMISKINAN' & NIAT BAIK DI PAPUA

Dandhy Dwi Laksono

'KEMISKINAN' & NIAT BAIK DI PAPUA. Visualisasi seperti ini kerap membuat jatuh iba dan mengundang niat baik orang atau pemerintah melalui program 'pengentasan kemiskinan'.

Yang terpikir kemudian bagaimana bisa "meningkatkan taraf hidup" dan membuka lapangan kerja atau memberi pekerjaan "yang lebih baik". Bentuknya terbentang mulai dari program charity (hibah/santunan) hingga rencana investasi.

Sehingga visual yang diharapkan sebagai indikator keberhasilan menjadi seperti ini: istri Ketua Adat Malind-Deq di pedalaman Merauke ini mengenakan pakaian yang lebih baik, memasak di kompor di dapur sebuah rumah permanen (tak lagi di gubuk-ladang), memakai alas kaki dengan lantai semen atau keramik, mandi sehari dua kali, bahkan mungkin dibayangkan makan beras dan bukan sagu.

Padahal sejatinya kita merancukan dua hal: pertama, gagal membedakan antara kemiskinan dan gaya hidup, dan kedua, hanya melihat kemiskinan melulu pada soal daya beli (tak banyak pendapatan berupa uang).

Cara berpakaian, cara hidup, bahan pangan, konsep rumah, atau cara memasak adalah gaya hidup. Tidak ada sangkut pautnya dengan kemiskinan. Bila kita memberinya kompor dengan niat baik untuk membantu, justru kita menjerumuskannya dalam masalah: memaksa ia membeli minyak tanah atau gas, sementara aksesnya sulit dan butuh uang.

Nah, karena perlu uang, lalu muncul niat baik berikutnya untuk memberinya pekerjaan. Maka perlu dibuka lapangan kerja. Karena itu investasi perlu masuk. Salah satu caranya dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti hutan, rawa atau lahan basah, dan kekayaan mineral yang ada di dalam tanah mereka.

Tanpa terasa, niat baik telah berubah menjadi rencana sistematis pemiskinan. Tanpa hutan, mereka yang tadinya mudah mencari kayu bakar, dipaksa membeli minyak tanah atau gas, meski kompornya gratis dari hibah. Tanpa kayu 'bus' atau rumbia, mereka yang semula bisa membangun rumah dengan bahan alami, dipaksa berhutang semen dan seng ke toko bangunan milik pendatang.

Tanpa dusun sagu, mereka yang semula tinggal menebang dan mengolah, harus membeli beras atau antre raskin. Dan tanpa sumber air alami, yang tadinya air gratis tinggal minum (tanpa perlu BBM untuk memasaknya), kini perlu membeli air kemasan atau tergantung pada PDAM yang kualitasnya tak layak konsumsi.

Pendek kata, semua hal yang tadinya gratis, kini harus dibeli. Karena harus membeli, maka harus punya uang. Karena tak boleh mencetak uang sendiri, maka harus masuk dalam sistem ekonomi 'modern' dan bekerja sebagai buruh tambang atau perkebunan. Yang punya tanah luas bisa hidup dari uang sewa atau ikut skema inti-plasma dan bagi hasil 80:20 atau 70:30 yang ditentukan investor kelapa sawit atau sawah tekno, tanpa kemampuan atau akses pada akuntansi perusahaan atau tax planning korporasi.

Sistem ekonomi kita sedang merancang seseorang yang tadinya "tinggal makan dan tidur", harus menempuh jalan yang jauh memutar agar bisa makan dan tidur dengan gaya standar orang lain.

Semua jebakan pemiskinan ini mungkin memang dimulai dengan niat baik. Padahal sesungguhnya siapa yang miskin? Mereka yang punya rawa dengan cadangan ikan berlimpah? Atau kita yang harus berkantor pagi pulang sore untuk membeli seiris tuna?

Kepada mereka lah kita harus iba. Bukan pada mama Barnabas Mahuze di Papua.

Ekspedisi Indonesia Biru

Rabu, 15 April 2015

RALAT : Lowongan PNPM MPk Kalimantan Barat

INFORMASI TERBARU TERKAIT REKRUTMEN TENAGA FASILITATOR KELURAHAN
PNPM MANDIRI PERKOTAAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2015

 Sehubungan dengan arahan dari PPK Pusat, terkait pelaksanaan rekrutmen di daerah, dimana agar diutamakan untuk menunggu terlebih dahulu penyelesaian penyusunan kebijakan program yang baru serta penganggarannya, maka dengan ini kami beritahukan kepada seluruh peminat yang akan mengajukan lamaran dari lowongan yang kami buka sejak tgl 14 april 2015 lalu bahwa lowongan sementara dipending. sedangkan untuk pelamar yang telah mengirimkan lamarannya, akan menjadi referensi bagi kami di OC-3 Kalbar dan akan berlaku apabila lowongan dibuka kembali. untuk proses selanjutnya yaitu penerimaan lamaran dan seleksi, kami masih menunggu arahan lanjutan dari Pusat dan akan kami informasikan kembali kemudian.

Kami atas nama panitia mohon maaf atas perubahan informasi ini.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan, atas perhatiannya dan pemaklumannya kami ucapkan terimakasih.

Ttd

Panitia Seleksi

Jumat, 20 Maret 2015

Haru tapi bangga baca status ini



Haru tapi bangga baca status ini :

Saat2 ini pelaku Pnpm sedang dilanda ketidakpastian, saya sebagai Bkm Desa di Pnpm Perkotaan menyadari dan merasakan kagelisahan teman2 faskel semua
Kalau tidak salah hampir 3 bulan Gaji teman2 FasKel blm dibayar, padahal mereka memerlukannya uk mehidupi keluarga
Tapi yg saya rasakan teman2 FasKel di tempat kami (Pangandaran), mencoba menyembunyikan kegelisahan itu
Mereka selalu optimis dan tersenyum, karena ajaran itu yg ditanamkan ke kami
Mereka sampai detik ini tak pernah ...mengeluh didepan kami, masih all out mendampingi, mengarahkan dan menanamkan semangat memberi
Kami tahu kami berbahagia diatas duka mereka, berbahagia karena masih bersama, berduka karena tdk bisa berbuat apa2
Ah.... Andai yg duduk disana bisa mendengar bisikan hati kami
Kami Bkm tak meminta apa2 kami hanya ingin yg duduk disana membayar hak teman2 faskel kami
Itu secuil harapan kami

Kamis, 19 Maret 2015

Palembang, 18 Maret 2015

Yakinlah, Menulis itu Menyenangkan


Diinformasikan oleh:

Nurachmi Ayu Susanti

TA Sosialisasi

OC 2 Provinsi Sumatera Selatan   

PNPM Mandiri Perkotaan
Setiap bulan rutinitas saya sekarang adalah membaca satu per satu tulisan yang dikirimkan oleh
teman-teman Askot dari tujuh kota/kabupaten se-Provinsi Sumatera Selatan.
Tulisan-tulisan tersebut sekarang mewarnai hidup. Saya jadi semakin akrab dengan gaya-gaya penulisan
dari teman-teman fasilitator. Ada yang menulis dengan gaya serius. Ada juga yang menulis dengan
malu-malu. Beberapa malah menulis seperti orang sedang tersesat, kehilangan arah. Lalu yang lain menulis
seperti berada dalam “komidi putar”. Masih banyak gaya lainnya, yang jika saya antologikan, bisa
menghabiskan lebih dari ratusan paragraf. Tapi sungguh, saya acungkan jempol kepada usaha teman-
teman fasilitator dalam menulis, walau kadang unsur keterpaksaan terlihat jelas dari beberapa tulisan yang
disajikan.
Membayangkan bagaimana suasana hati teman-teman yang menulis tanpa meneguk rasa nikmat menulis,
membuat saya tersenyum miris. Berbekal alasan sekadar menggugurkan tanggung jawab, karena menulis
Best Practice merupakan salah satu kewajiban dan masuk sebagai salah satu laporan bulanan, membuat
tulisan-tulisan tersebut kehilangan ruhnya.
Saya tidak terlalu berharap akan menemukan tulisan Best Practice di antara berpuluh tulisan yang masuk.
Karena, ketika seseorang menulis tanpa dilandasi hati maka mustahil sebuah “Best Practice” muncul. 



Mari kita merenungkan sebentar. Jika diibaratkan dua orang
yang sedang berbincang, tulisan adalah ucapan atau
perkataan dari seseorang yang bercerita (penulis), dan
pembaca adalah orang yang diajak berbincang. Apa
asyiknya berbincang dengan orang terpaksa, memasang
muka bertekuk lima, yang sesekali mengeluh? Dapat
dipastikan jawabannya adalah tidak asyik!
Seperti itu juga yang terjadi dengan sejumlah tulisan yang
mampir via email setiap bulannya. Terkadang saya harus
mengeryitkan dahi untuk mengerti apa topik cerita yang
disajikan, karena kalimat demi kalimat yang disajikan tidak
membuat “enjoy” saat dibaca.

Melihat fenomena yang terus berulang setiap bulannya, sayapun berinisiatif, mencoba memberi arah kepada
teman-teman yang “tersesat”, dengan menentukan tema tulisan, bergilir di setiap bulannya. Ternyata hal ini
cukup efektif. Bravo! Sekarang tulisan teman-teman sudah lebih terarah dan fokus pada satu permasalahan,
walau permasalahan “tidak enjoy” kadang masih terlihat.
Berdasarkan hasil uji petik yang dilakukan di beberapa kota/kabupaten, ternyata permasalahan menulis,
yang juga menjadi permasalahan nasional ini, bersumber dari mispersepsi tentang makna “Best Practice”.
Yang terdoktrin di benak teman-teman fasilitator adalah “cerita terbaik”. Artinya cerita tersebut harus
bersumber dari kelurahan/desa yang “baik”, dari sisi keorganisasian dan kegiatan yang dilakukan.
Bagaimana dengan teman-teman fasilitator yang kebagian mendampingi kelurahan/desa yang bisa dibilang
“amburadul” dari sisi organisasi dan kegiatan? Nah, teman-teman inilah yang akhirnya mesti menulis
“Best Practice” sambil menekuk muka dan mengernyitkan dahi.
Padahal, tanpa disadari, “Best Practice” yang sesungguhnya lebih dekat kepada teman-teman pendampin
kelurahan/desa yang disebut “amburadul” tadi. Karena, ketika teman-teman melakukan suatu perbaikan
dari si wilayah “amburadul” ini, otomatis hal tersebut jadi bahan yang bisa diolah menjadi menu lezat
“Best Practice”. Hanya dengan menggunakan rumus 5W+1H sebuah tulisan Best Practice pun akan
tercipta.
Memang kita harus berpikir out of the box. Tapi jangan sampai kita berpikir terlalu “out” alias jauh,
sehingga hal yang di dekat malah terabaikan. Jangan terlalu sibuk memikirkan tema yang begitu bagus,
hingga akhirnya malah tak jadi menulis.
Menulislah dengan hati. Menulis dengan bersikap seperti kita berbicara kepada seseorang. Dengan
memerhatikan siapa yang kita akan ajak bicara. Itu akan membawa gaya tulisan kita. Seperti saat kita
berbicara dengan orang tua maka tulisan kita akan bergaya resmi. Sedangkan saat berbicara dengan teman
sebaya, tulisan kita akan lebih lebih santai.
Saya bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata. Saya juga pastinya tidak pantas jika harus
disebut sebagai seorang penulis, tapi saya suka menulis. Dengan membuat tulisan ini, saya hanya ingin
teman-teman pun merasakan nikmatnya menulis. Karena, sungguh, menulis itu sangat menyenangkan.
[Sumsel]
Editor: Nina Firstavina