Dandhy Dwi Laksono
'KEMISKINAN' & NIAT BAIK DI PAPUA. Visualisasi seperti ini kerap membuat jatuh iba dan mengundang niat baik orang atau pemerintah melalui program 'pengentasan kemiskinan'.
Yang terpikir kemudian bagaimana bisa "meningkatkan taraf hidup" dan membuka lapangan kerja atau memberi pekerjaan "yang lebih baik". Bentuknya terbentang mulai dari program charity (hibah/santunan) hingga rencana investasi.
Sehingga visual yang diharapkan sebagai indikator keberhasilan menjadi seperti ini: istri Ketua Adat Malind-Deq di pedalaman Merauke ini mengenakan pakaian yang lebih baik, memasak di kompor di dapur sebuah rumah permanen (tak lagi di gubuk-ladang), memakai alas kaki dengan lantai semen atau keramik, mandi sehari dua kali, bahkan mungkin dibayangkan makan beras dan bukan sagu.
Padahal sejatinya kita merancukan dua hal: pertama, gagal membedakan antara kemiskinan dan gaya hidup, dan kedua, hanya melihat kemiskinan melulu pada soal daya beli (tak banyak pendapatan berupa uang).
Cara berpakaian, cara hidup, bahan pangan, konsep rumah, atau cara memasak adalah gaya hidup. Tidak ada sangkut pautnya dengan kemiskinan. Bila kita memberinya kompor dengan niat baik untuk membantu, justru kita menjerumuskannya dalam masalah: memaksa ia membeli minyak tanah atau gas, sementara aksesnya sulit dan butuh uang.
Nah, karena perlu uang, lalu muncul niat baik berikutnya untuk memberinya pekerjaan. Maka perlu dibuka lapangan kerja. Karena itu investasi perlu masuk. Salah satu caranya dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti hutan, rawa atau lahan basah, dan kekayaan mineral yang ada di dalam tanah mereka.
Tanpa terasa, niat baik telah berubah menjadi rencana sistematis pemiskinan. Tanpa hutan, mereka yang tadinya mudah mencari kayu bakar, dipaksa membeli minyak tanah atau gas, meski kompornya gratis dari hibah. Tanpa kayu 'bus' atau rumbia, mereka yang semula bisa membangun rumah dengan bahan alami, dipaksa berhutang semen dan seng ke toko bangunan milik pendatang.
Tanpa dusun sagu, mereka yang semula tinggal menebang dan mengolah, harus membeli beras atau antre raskin. Dan tanpa sumber air alami, yang tadinya air gratis tinggal minum (tanpa perlu BBM untuk memasaknya), kini perlu membeli air kemasan atau tergantung pada PDAM yang kualitasnya tak layak konsumsi.
Pendek kata, semua hal yang tadinya gratis, kini harus dibeli. Karena harus membeli, maka harus punya uang. Karena tak boleh mencetak uang sendiri, maka harus masuk dalam sistem ekonomi 'modern' dan bekerja sebagai buruh tambang atau perkebunan. Yang punya tanah luas bisa hidup dari uang sewa atau ikut skema inti-plasma dan bagi hasil 80:20 atau 70:30 yang ditentukan investor kelapa sawit atau sawah tekno, tanpa kemampuan atau akses pada akuntansi perusahaan atau tax planning korporasi.
Sistem ekonomi kita sedang merancang seseorang yang tadinya "tinggal makan dan tidur", harus menempuh jalan yang jauh memutar agar bisa makan dan tidur dengan gaya standar orang lain.
Semua jebakan pemiskinan ini mungkin memang dimulai dengan niat baik. Padahal sesungguhnya siapa yang miskin? Mereka yang punya rawa dengan cadangan ikan berlimpah? Atau kita yang harus berkantor pagi pulang sore untuk membeli seiris tuna?
Kepada mereka lah kita harus iba. Bukan pada mama Barnabas Mahuze di Papua.
Ekspedisi Indonesia Biru
PNPM Mandiri Perkotaan
Bersama Membangun Kemandirian
Minggu, 26 Juli 2015
Rabu, 22 Juli 2015
Rabu, 15 April 2015
RALAT : Lowongan PNPM MPk Kalimantan Barat
INFORMASI TERBARU TERKAIT REKRUTMEN TENAGA FASILITATOR KELURAHAN
PNPM MANDIRI PERKOTAAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2015
Sehubungan dengan arahan dari PPK Pusat, terkait pelaksanaan rekrutmen di daerah, dimana agar diutamakan untuk menunggu terlebih dahulu penyelesaian penyusunan kebijakan program yang baru serta penganggarannya, maka dengan ini kami beritahukan kepada seluruh peminat yang akan mengajukan lamaran dari lowongan yang kami buka sejak tgl 14 april 2015 lalu bahwa lowongan sementara dipending. sedangkan untuk pelamar yang telah mengirimkan lamarannya, akan menjadi referensi bagi kami di OC-3 Kalbar dan akan berlaku apabila lowongan dibuka kembali. untuk proses selanjutnya yaitu penerimaan lamaran dan seleksi, kami masih menunggu arahan lanjutan dari Pusat dan akan kami informasikan kembali kemudian.
Kami atas nama panitia mohon maaf atas perubahan informasi ini.
Demikian pengumuman ini kami sampaikan, atas perhatiannya dan pemaklumannya kami ucapkan terimakasih.
Ttd
Panitia Seleksi
PNPM MANDIRI PERKOTAAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT TAHUN 2015
Sehubungan dengan arahan dari PPK Pusat, terkait pelaksanaan rekrutmen di daerah, dimana agar diutamakan untuk menunggu terlebih dahulu penyelesaian penyusunan kebijakan program yang baru serta penganggarannya, maka dengan ini kami beritahukan kepada seluruh peminat yang akan mengajukan lamaran dari lowongan yang kami buka sejak tgl 14 april 2015 lalu bahwa lowongan sementara dipending. sedangkan untuk pelamar yang telah mengirimkan lamarannya, akan menjadi referensi bagi kami di OC-3 Kalbar dan akan berlaku apabila lowongan dibuka kembali. untuk proses selanjutnya yaitu penerimaan lamaran dan seleksi, kami masih menunggu arahan lanjutan dari Pusat dan akan kami informasikan kembali kemudian.
Kami atas nama panitia mohon maaf atas perubahan informasi ini.
Demikian pengumuman ini kami sampaikan, atas perhatiannya dan pemaklumannya kami ucapkan terimakasih.
Ttd
Panitia Seleksi
Jumat, 20 Maret 2015
Haru tapi bangga baca status ini
Haru tapi bangga baca status ini :
Saat2 ini pelaku Pnpm sedang dilanda ketidakpastian, saya sebagai Bkm Desa di Pnpm Perkotaan menyadari dan merasakan kagelisahan teman2 faskel semua
Kalau tidak salah hampir 3 bulan Gaji teman2 FasKel blm dibayar, padahal mereka memerlukannya uk mehidupi keluarga
Tapi yg saya rasakan teman2 FasKel di tempat kami (Pangandaran), mencoba menyembunyikan kegelisahan itu
Mereka selalu optimis dan tersenyum, karena ajaran itu yg ditanamkan ke kami
Mereka sampai detik ini tak pernah ...mengeluh didepan kami, masih all out mendampingi, mengarahkan dan menanamkan semangat memberi
Kami tahu kami berbahagia diatas duka mereka, berbahagia karena masih bersama, berduka karena tdk bisa berbuat apa2
Ah.... Andai yg duduk disana bisa mendengar bisikan hati kami
Kami Bkm tak meminta apa2 kami hanya ingin yg duduk disana membayar hak teman2 faskel kami
Itu secuil harapan kami
Kamis, 19 Maret 2015
Langganan:
Postingan (Atom)
